Senin, 17 Mei 2010

blooming red peony Share

Selalu, tiap sore kuhabiskan dengan menikmati buaian angin dan bau rumput pekarangan rumahmu. Entah itu dibangkubangku kayu kokoh disisi kirinya, ayunan dibawah pohon, bahkan bertelentangan tak peduli di rerumputan. Melongok kebawah melihat deret rumah pedesaan dan aliran sungai keperakan di lembahnya. Atau menengadah kelangit yang seolah sejangkauan tangan kita. Rumah bukitmu selalu membuatku tak ingin pulang. Warnanya biru laut, seperti rumah-rumah nelayan Yunani di Levkas. Teduh.

Kita selalu bercerita tentang apa saja. Tentang pittosporum yang memagari pekaranganmu, tentang gaun aquamarine baruku, atau tentang mimpi-mimpi kita tinggal di neverland selamanya.

Suatu ketika, saat aroma cinnamon mengalun dari uap melange quartier tea diatas meja beranda, kau berkata, kau suka melihatku terlelap telungkup dengan kepala menoleh kesamping beralaskan tangan. Melihat kedamaian menelanku. Membiarkan angin meniup lembut rambutku. Aku tahu, biasanya kau akan langsung melukisku dan diam-diam menempel hasilnya didinding kamarmu. Kau bilang aku cantik. Mampu membuat para kolibri yang meracau di pucuk-pucuk sibbaldia bungkam. Dan kau berhasil membuat pipiku bersemu merah.

Ingatkah kau? Saat itu aku berbaring dengan kepala dipangkuanmu yang sedang melukis langit. Lalu kau bercerita tentang legenda Iguazu. Kau bilang, kau ingin seperti Taroba yang menculik Naipi, kekasihnya yang ingin dinikahi Tuhan. Kau bilang, mungkin kau mencintaiku jauh sebelum antediluvium. Aku cuma tersenyum, karena wajahmu begitu serius.

Kau memanggilku Lof. Persis seperti orang-orang Sheffield jika mengucap 'love'. Kau selalu mengagumi cara orang-orang Midland berbicara.

pun ketika langit berubah oranye gelap, wajahmu tetap bersinar. Jelas, seperti empat kerlip bintang trapesium rasi belantik di langit malam. Menunjukkan arah.

Kemudian kau biarkan aku terbenam dalam pelukanmu. Samar dapat kudengar kau menyanyikan sebait lagu
: si la poussiere emporte tes reves de lumiere, je serai ta lune, ton repere. Et si le soleil nous brule, je prierai qui tu voudras. Pour que tombe la neigi au Sahara. . .

jika harapanmu hancur berkepingkeping,aku akan menjadi bulan yang menerangi jalanmu. Matahari bisa membutakan matamu, aku akan berdoa pada langit, agar salju berderai di Sahara. . .

Malam turun. Biarkan aku terpejam. Aku masih ingin bersamamu.


(ed//16mei2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar