Meringkuk dibawah selimut dalam gelap, bayang-bayang cahaya lampu yang masuk dari jendela, saya iseng buka fesbuk mobile karena si pacar gak bales sms yang menandakan dia sudah bobok. Saya kaget pas baca wallpost dari kakak senior SMA saya, Purnama Sari, yang mengabarkan sebuah berita duka. Mama kak Tama, yang juga senior saya, meninggal. Innalillahi wa inna illahi rojiuun. Saya langsung ngirim ucapan turut belasungkawa ke fesbuknya.
Saya gak begitu deket sama dia sebenernya. Lebih deket ke adek kembarnya, almarhum kak Tami yang juga sudah mendahului menujuNya beberapa tahun yang lalu karena sakit. Berita duka ini mau gak mau ngingetin saya sama kak Tami. Sebuah kehilangan yang cukup mengejutkan buat saya karena kebersamaan terakhir kami adalah saat menjelang keberangkatan saya ke Surabaya 2 tahun yang lalu. Dia teman yang baik. Kakak yang baik. Saya tau pasti bakal merindukannya :'((
Kabar kehilangan ini entah kenapa juga membawa saya kembali ke 4-5 tahun lalu. Masa SMA. Masa dimana hari2 saya diisi oleh temen2, senior2 termasuk kak Tama dan alm. kak Tami juga. Bahkan kenangan saat acara buka puasa bareng dirumah mereka. Pertama kali bertemu almarhumah mamanya, mungkin itu juga yang terakhir. Saya ingat ketika beliau salah menyangka saya sebagai teman dekat anaknya alih-alih senior saya yang memang pacar anaknya. Semua berkelebatan dibenak saya seperti kaset yang diputar ulang. Membuat atmosfir sendu berpusar mengelilingi saya. Betapa mereka pernah ada dalam ingatan saya jauh sebelum hari ini.
Dalam gelap ini, dalam kesedihan dan perasaan aneh antara ketakutan dan sepi yang menguasai saya, saya jadi ingat mama, ingat orang-orang yang saya cintai, ingat betapa kematian sangat dekat mengintai kita. Menanti saat yang tepat untuk menyergap kita diam-diam, tanpa peduli kita sudah siap atau belum. Tanpa kita bisa melawan dan menunda barang sedetikpun. Menarik dengan paksa semua yang semu menuju keabadian yang hakiki di sisiNya. Membayangkannya saja mampu membuat saya bergidik. Saya takut. Mau tak mau sebuah pertanyaan mengerikan muncul tiba tiba, kapan giliran saya??
Saya baru sadar betapa saya telah begitu lalai, betapa banyak yang belum saya kerjakan, betapa saya belum bisa membahagiakan mama, betapa tipis perbekalan saya. Dunia telah melalaikan saya, membuat saya lupa bahwa semua ini tak lebih sekedipan mata dibandingkan keabadian di alam sana. Sebuah alam yang saya tak berani membayangkannya. Mungkin jauh, bisa jadi sangat dekat.
Tuhan, jangan ambil saya dulu, jangan ambil mama dulu. Tunggu sampai saya siap. Tunggu sampai saya cukup. Rengkuh saya dalam keadaan damai dalam pelukanMu. Amin.
PS : Semua milikNya kembali padaNya. Semoga yang ditinggalkan bisa tabah dan mengambil pelajaran. Yang sabar ya, kak Tama :'((
Tidak ada komentar:
Posting Komentar